Pages

Wednesday, July 20, 2005

sekali (lagi) untuk bangsaku

Masih seperti tahun-tahun kemarin, bulan mei akan menjadi penting bagi bangsa ini. Bulan dimana kita akan memperingati berbagai peristiwa bersejarah yang menghiasi perjalanan bangsa kita, disana ada hari pendidikan nasional yang kita peringati tiap 2 Mei dan Hari Kebangkitan Nasional yang diperingati tiap 20 Mei, kemudian untuk kurun waktu 7 Tahun terakhir pasca jatuhnya rezim orde baru 21 Mei 1998 bulan ini juga dianggap sebagai awal babak baru bangsa kita yang lazim disebut reformasi. Bangkrutnya bangsa kita yang ditandai dengan krisis moneter, mendorong anak- anak bangsa menentukan pilihan menurunkan penguasa orde baru yaitu “Bapak Pembangunan Soeharto “. Sebuah prosesi dimana tetesan darah dan air mata anak bangsa ternyata menjadi sesuatu yang harus dibayarkan sebagai ongkos peristiwa bersejarah tersebut. Setelah 7 Tahun masa reformasi bergulir, banyak peristiwa- peristiwa yang terjadi secara kilat. Berbagai perubahan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, menyangkut kehidupan politik, ekonomi, sosial, budaya membawa bangsa ini menapaki tata kehidupan baru yang lebih baik. Walaupun harus disadari bahwa tidak mudah untuk mengubah wajah buruk bangsa kita. Bahkan tak jarang kita saksikan banyak diantara kita yang kemudian menyatakan adalah lebih baik kembali ke masa orde baru. Karena ternyata kita diperhadapkan pada hal- hal yang serba tidak pasti.

Berbagai perubahan dalam sistem ketatanegaraan kita, yang memberi kesempatan yang semakin luas bagi setiap warga negara, termasuk memilih wakil dan pemimpinnya adalah sesuatu yang harus kita syukuri pada masa kini. Pemilu legislatif dan Presiden secara langsung, kemudian Pemilihan Kepala Daerah secara langsung adalah sebagai bukti bangsa kita sedang berupaya memperbaiki diri. Walaupun harus diakui bahwa dalam tahapan sejarah tersebut masih tetap ada tantangan yang harus kita hadapi. Apa yang terjadi di KPU, dan juga yang terjadi di berbagai BUMN yang melibatkan anak- anak bangsa sebagai bukti betapa mentalitas dan moralitas kita sudah sedemikian hancurnya selama masa orde baru, ketidakberdayaan pendidikan maupun agama untuk membentuk mentalitas dan moralitas anak bangsa mengakibatkan hampir seluruh sendi- sendi kehidupan kita rusak berantakan. Sebab tidak ada lagi moralitas kolektif yang dipahami dan jadikan ikatan- ikatan dalam kehidupan sosial kemasyarakatan kita.

Momentum pilkadal yang yang akan memilih pemimpin- pemimpin di daerah yang kita harapkan sebagai momentum perubahan ke arah yang lebih baik, ternyata masih harus dinodai oleh praktek- praktek money politics, mulai dari proses penjaringan balon yang harus melalui parpol, hingga pada kegiatan- kegiatan kelompok masyarakat yang dihadiri para balon, untuk membagi- bagikan angpao, membuat proses pilkadal ini kurang baik. Banyaknya para balon yang maju di setiap daerah ternyata tidak serta merta membawa kebaikan bagi daerah tersebut, bangkitnya kembali semangat primordialisme berdasarkan suku, agama, ras dan golongan juga berbagai bentuk ikatan- ikatan primordialisme yang lain menjadi sesuatu yang tak terhindarkan dalam proses pilkadal ini. Lantas apa yang harus dilakukan oleh anak- anak Tuhan? Apa yang harus kita lakukan untuk memberi kesejukan dalam kehidupan bangsa kita?

Alkitab sudah mencatat bahwa hampir keseluruhan pemimpin yang hadir dalam sejarah kekristenan kita selalu menyadari dirinya sebagai manusia yang tidak berdaya, tidak mampu, sehingga hanya oleh campur tangan Tuhanlah mereka dimampukan dalam memimpin umat. Penyerahan diri secara total para pemimpin dalam sejarah Alkitab kepada Tuhan adalah hal yang paling pokok dan menjadi yang pertama yang dilakukan oleh para pemimpin tersebut.

Setiap pemimpin kita yakini adalah pilihan Tuhan, jika pemipin tersebut menjadikan mereka yang dipimpinnya sebagai saudara yang dikasihinya, yang menuntun mereka menapaki hari- hari yang lebih baik. Yang memimpin dengan adil, damai dan membawa kesejahteraan bagi umatnya. Sebagaimana Musa menjadi pemimpin yang membawa UmatNya menuju tanah perjanjian, penuh kesabaran, bertekun dalam doa dan selalu menjadikan Tuhan Allah sebagai penuntunnya, membawa bangsanya menuju masa depan yang lebih baik di tanah perjanjian.

Sebagaimana Musa memimpin umatNya demikianlah kiranya setiap pemipin yang ada dan yang akan datang untuk memimpin bangsa kita. Yang meletakkan penyerahannya kepada Tuhan sebagai landasannya untuk memulai tiap aktivitasnya dalam memimpin, dan biarlah kiranya setiap mereka yang dipimpin juga tetap memberikan dukungan sekaligus tetap mendoakan pemimpinnya agar tetap diterangi kasih Kristus dalam memimpin umatNya.

Keterpurukan bangsa sebagai akibat dari merosotnya moralitas dan mentalitas anak bangsa pada akhirnya akan dapat diatasi ketika Tuhan campur tangan dalam perjalanan bangsa kita. Karena Dia tidak pernah rela, tidak pernah meninggalkan umatNya. Mempererat persekutuan, sebagai saudara di dalam Tuhan akan menjadi kekuatan kita dalam membangun bangsa kita. Dan pekerjaan terus menerus untuk membangun kembali moralitas dan mentalitas bangsa akan membawa kita dalam menapaki masa depan yang lebih baik, terkhusus buat mereka yang akan menjadi pemimpin di tengah tengah bangsa ini agar mau merendahkan diri di hadapan Tuhan, memohon campur tangan Tuhan agar dia senantiasa dimampukan dalam memimpin bangsa ini. Kepada mereka yang dipimpin agar memberi dukungan kepada pemimpinnya, menopang program- program yang mensejahterakan umatNya. hanya dengan komitmen seperti itulah bangsa kita akan Bangkit!